Sebetulnya akan sulit memecahkan masalah kesemrawutan lalu lintas di suatu kota tanpa penerapan zonasi secara ketat. Dimana peraturan harus ditegakkan, misalkan suatu wilayah yang sudah ditentukan untuk perumahan, tidak dimungkinkan untuk dibangun suatu tempat usaha seperti Mall atau perkantoran. Tetapi memandang situasi yang sudah berkembang di Kota Kembang ini maka masalah zonasi yang ketat sudah tidak memungkinkan untuk diberlakukan.
Jadi langsung ke masalah awal, yaitu lalu lintas, usaha yang pertama kali harus dilakukan adalah mengembalikan ruang lintasan kendaraan kembali kepada fungsinya dan mengurangi hambatan samping jalan. Berikut usulan perbaikan kondisi lalu lintas berdasarkan urutan skala prioritasnya :
• Perbaikan dan pembuatan drainase yang lebih memadai. Melimpahnya air limpasan permukaan ke jalan selama ini membuat hambatan lalu lintas dan juga mengurangi masa pakai aspal jalan. Selain itu genangan dan arus air selama terjadinya hujan juga dapat mengurangi kenyamanan bahkan membahayakan jiwa para pejalan kaki.
• Pembuatan jalur pejalan kaki (trotoar) yang baik dan nyaman. Jadi masyarakat yang akan berpindah tempat dalam jarak yang tidak terlalu jauh akan memilih berjalan kaki dibanding menggunakan kendaraan, baik kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum, sehingga jumlah kendaraan di jalan dapat sedikit ditekan.
• Menjaga jalur pejalan kaki dari penyalahgunaan fungsi seperti penanaman pohon pelindung (atau pot tanaman dengan alasan penghijauan) di tengah-tengah jalur trotoar, penggunaan oleh pedagang pinggir jalan dan juga penggunaan sebagai tempat parkir kendaraan.
• Pembangunan gedung-gedung parkir oleh Pemerintah Kota. Selain mengurangi parkir di badan jalan maka gedung parkir ini juga lebih transparan dalam perhitungan pemasukkannya ke kas Pemkot. Biaya pembebasan lahan dan pembangunan gedung akan lebih murah dibandingkan pembangunan sarana transportasi massal modern seperti monorail.
• Pengaturan ulang jumlah dan jalur Angkutan Kota sehingga tidak menempuh jarak yang terlalu jauh. Selama ini banyak jalur angkutan kota yang bersinggungan dalam jarak yang cukup jauh, misalkan Jl. PHH Mustopha antara Jl. Pahlawan sampai Terminal Cicaheum. Dalam jarak sekian kilometer terdapat banyak jalur Angkutan Kota yang melintas secara bersamaan. Dampaknya harus disediakan sub-sub terminal yang merupakan penanda ujung dan akhir trayek.
• Untuk jarak tempuh yang jauh disediakan moda Angkutan Massal. Agar tidak bentrok kepentingan dengan angkutan jarak dekat maka harus diperhatikan agar moda Angkutan Massal ini tidak mudah dihentikan di sembarang tempat.
Memang untuk perbaikan kondisi perlalu-lintasan Kota Bandung diperlukan kemauan dan kerja keras dari seluruh Stake Holder kota. Tetapi jika hal inipun dari awal dianggap berat sehingga tidak memungkinkan untuk dikerjakan, maka rasanya tidak akan mungkin ada perubahan positif dalam masalah lalu lintas Kota Bandung.
hanya karangan, khayalan dan harapan. jangan anggap sebagai kebenaran karena mungkin kebenaran itu sulit ditemukan.
Tampilkan postingan dengan label Rekayasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rekayasa. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 Agustus 2011
Usulan Pemecahan Masalah Lalu Lintas di Kota Bandung
Jumat, 05 Agustus 2011
Lalu Lintas Bandung, Lalu Lintas Neraka
Kota Bandung mempunyai jumlah penduduk yang besar dalam luasan wilayah yang kecil. Kota ini pada akhir pekan dan liburan sekolah banyak didatangi wisatawan, khususnya wisatawan lokal. Tetapi selain daya tarik wisata, Bandung juga terkenal dengan kepadatan lalu lintasnya. Jalan-jalan yang sempit dan melingkar-lingkar, pedagang kaki lima dan Mall bercampur baur dengan merdeka.
Ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi sebagai akar permasalahan di atas, antara lain :
• Perencanaan awal kota yang tidak memungkinkan untuk adanya pelebaran jalan secara ekstrim. Jika dipaksakan ada pelebaran maka kemungkinan akan terjadi penyatuan dua ruas jalan. Sebab pada beberapa wilayah jarak antara dua ruas jalan seringkali sangat dekat, seperti jalur utama Jl. Asia Afrika yang diapit oleh Jl. ABC dan Jl. Dalem Kaum – Jl. Cibadak. Maka pelebaran Jl. Asia Afrika secara ekstrim akan membuatnya bersatu dengan Jl. ABC dan atau Jl. Dalem Kaum.
• Pembagian zona kegiatan yang tidak terencana, pencampuran antara pemukiman (zona bangkitan) dan ekonomi (zona tarikan). Ini akibat kemerdekaan membangun tempat usaha apapun di wilayah manapun di kota ini sangat didukung oleh pihak Pemerintah Kota. Daerah Dago yang dahulu merupakan pemukiman kini menjadi daerah perdagangan, sedang di daerah Cicadas yang dulu daerah perdagangan justru dibangun apartemen yang fungsinya adalah tempat bermukim.
• Ketersediaan sarana pendukung lalu lintas yang buruk, seperti lahan parkir yang sedikit, trotoar untuk pejalan kaki yang nyaris tidak ada, saluran drainase yang juga nyaris punah juga menambah persoalan di saat hujan turun. Hal yang tampak jelas di Jl. Cihampelas, dimana terjadi perebutan fungsi lahan antara tanaman pelindung, pejalan kaki, jalur sepeda motor, tempat parkir mobil, tempat berdagang PKL dan jika hujan perebutan fungsi ditambah lagi oleh selokan air.
• Berlimpahnya daya tarik kota Bandung, mulai dari hawa yang relatif lebih bersahabat, tempat pendidikan, tempat usaha sampai tempat wisata. Maka dapat dibayangkan lalu lintas Jl. Ganesya di hari Sabtu, kendaraan mahasiswa ITB yang hendak kuliah bercampur dengan kendaraan wisatawan yang mencari parkir untuk menunggang kuda di Taman Ganesya. Sementara lahan parkir dan trotoar sudah terlebih dahulu dikuasai oleh pedagang VCD dan penjual makanan, belum lagi bila di Mesjid Salman ada kegiatan.
• Sebagai pelengkap dari menu 4 semrawut 5 sempurna adalah daya nalar pihak Pengelola Kota Bandung yang dari tahun ke tahun tidak mengalami peningkatan bahkan semakin memburuk. Pemerintah Kota tidak banyak memperhatikan hal selain meningkatnya pemasukan dari usaha-usaha yang dijalankan masyarakatnya. Jadi selama itu berdampak positif terhadap pendapatan maka sangat besar kemungkinannya usaha “apapun” disetujui keberadaannya.
Nah, secara garis besar hal-hal tersebut di ataslah yang merupakan penyumbang terbesar terjadinya Lalu Lintas Neraka di Kota Bandung. Jadi, anda ingin menyumbang? Kalau berminat, kami nanti kehadiran anda di akses keluar Tol Pasteur pada hari Sabtu sore. Sampai jumpa...
Ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi sebagai akar permasalahan di atas, antara lain :
• Perencanaan awal kota yang tidak memungkinkan untuk adanya pelebaran jalan secara ekstrim. Jika dipaksakan ada pelebaran maka kemungkinan akan terjadi penyatuan dua ruas jalan. Sebab pada beberapa wilayah jarak antara dua ruas jalan seringkali sangat dekat, seperti jalur utama Jl. Asia Afrika yang diapit oleh Jl. ABC dan Jl. Dalem Kaum – Jl. Cibadak. Maka pelebaran Jl. Asia Afrika secara ekstrim akan membuatnya bersatu dengan Jl. ABC dan atau Jl. Dalem Kaum.
• Pembagian zona kegiatan yang tidak terencana, pencampuran antara pemukiman (zona bangkitan) dan ekonomi (zona tarikan). Ini akibat kemerdekaan membangun tempat usaha apapun di wilayah manapun di kota ini sangat didukung oleh pihak Pemerintah Kota. Daerah Dago yang dahulu merupakan pemukiman kini menjadi daerah perdagangan, sedang di daerah Cicadas yang dulu daerah perdagangan justru dibangun apartemen yang fungsinya adalah tempat bermukim.
• Ketersediaan sarana pendukung lalu lintas yang buruk, seperti lahan parkir yang sedikit, trotoar untuk pejalan kaki yang nyaris tidak ada, saluran drainase yang juga nyaris punah juga menambah persoalan di saat hujan turun. Hal yang tampak jelas di Jl. Cihampelas, dimana terjadi perebutan fungsi lahan antara tanaman pelindung, pejalan kaki, jalur sepeda motor, tempat parkir mobil, tempat berdagang PKL dan jika hujan perebutan fungsi ditambah lagi oleh selokan air.
• Berlimpahnya daya tarik kota Bandung, mulai dari hawa yang relatif lebih bersahabat, tempat pendidikan, tempat usaha sampai tempat wisata. Maka dapat dibayangkan lalu lintas Jl. Ganesya di hari Sabtu, kendaraan mahasiswa ITB yang hendak kuliah bercampur dengan kendaraan wisatawan yang mencari parkir untuk menunggang kuda di Taman Ganesya. Sementara lahan parkir dan trotoar sudah terlebih dahulu dikuasai oleh pedagang VCD dan penjual makanan, belum lagi bila di Mesjid Salman ada kegiatan.
• Sebagai pelengkap dari menu 4 semrawut 5 sempurna adalah daya nalar pihak Pengelola Kota Bandung yang dari tahun ke tahun tidak mengalami peningkatan bahkan semakin memburuk. Pemerintah Kota tidak banyak memperhatikan hal selain meningkatnya pemasukan dari usaha-usaha yang dijalankan masyarakatnya. Jadi selama itu berdampak positif terhadap pendapatan maka sangat besar kemungkinannya usaha “apapun” disetujui keberadaannya.
Nah, secara garis besar hal-hal tersebut di ataslah yang merupakan penyumbang terbesar terjadinya Lalu Lintas Neraka di Kota Bandung. Jadi, anda ingin menyumbang? Kalau berminat, kami nanti kehadiran anda di akses keluar Tol Pasteur pada hari Sabtu sore. Sampai jumpa...